Penyebab Rendahnya Pasokan Jagung di Dalam Negeri

Jagung merupakan sumber pangan alternatif yang dapat dijadikan sebagai pengganti padi dan gandum. Hingga saat ini permintaan terhadap jagung terus mengalami peningkatan. Meskipun dari tahun ke tahun kebutuhan akan jagung selalu bertambah, namun ternyata tidak dibarengi dengan jumlah pasokannya.

Juru Bicara Kementrian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif menyatakan bahwa untuk saat ini pasokan jagung di Indonesia masih rendah sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan industri pangan.

“Kebutuhan bahan baku jagung pada tahun lalu mencapai 1,2 juta ton namun pasokannya di dalam negeri hanya dapat dipenuhi sekitar 7 ribu ton saja. Padahal diperkirakan kebutuhan jagung untuk industri pangan akan mengalami peningkatan sebesar 1,5-1,6 juta ton di tahun 2022. Hal itu seiring dengan adanya investasi pada sektor industri pati jagung baru yang sudah mulai beroperasi,” ungkapnya, Jumat (6/5/2022).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo meghimbau agar pasokan dan harga jagung pakan dapat stabil sehingga tidak akan berimbas pada naiknya harga-harga pangan, terutama telur dan daging ayam.

Jagung memang bukan sekedar sumber pangan namun juga sebagai bahan pakan ternak. Mulai dari biji, tongkol hingga klobot atau kulit jagung dapat dijadikan pakan ternak yang mengandung banyak vitamin. Maka dari itu, kestabilan pasokan dan harga jagung pakan akan sangat berdampak pada industri pangan juga. 

Mengapa Pasokan Jagung Masih Rendah ?

Febri Hendri Antoni Arif menuturkan bahwa kebutuhan jagung untuk industri pakan sebenarnya sudah dapat terpenuhi hampir 100 persen. Tiap tahunnya dapat mencapai delapan sampai sembilan juta ton. Namun tidak dengan industri pangan yang masih sangat jauh dari pasokan yang ada.

Belum tercukupinya untuk industri pangan tersebut membuat pemerintah mengambil langkah untuk melakukan impor jagung. Bahkan menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2021 jumlah impor jagung mengalami peningkatan 15% yakni kurang lebih sebanyak 995 ribu ton. Apabila dihitung nilai impornya dapat mencapai sekitar 4,28 triliun.

Penyebab Rendahnya Pasokan Jagung di Dalam Negeri

Rendahnya pasokan jagung di Indonesia salah satunya disebabkan oleh kesulitan petani dalam menghasilkan jagung yang memiliki tingkat kandungan aflatoksin kurang dari 20 part per billion (ppb).

“Angka itu adalah nilai maksimum kandungan aflatoksin yang harus dipenuhi untuk bahan baku pangan. Sementara untuk bahan baku pakan, angka maksimumnya 50 ppb,” jelas Febri. 

Kandungan aflatoksin dengan total maksimum 20 ppb untuk industri pangan, telah ditetapkan dalam aturan SNI 8926:2020 mengenai jagung. Angka tersebut sudah menjadi batas kandungan aflatoksin yang aman untuk jagung.

Begitu juga di Amerika Serikat yang menentukan batas aman kandungan aflatoksin maksimal di angka 20 ppb. Sedangkan, Uni Eropa menetapkan syarat yang lebih ketat yakni kandungan aflatoksin dalam jagung tidak boleh melebihi 4 ppb.

Selain kadar kandungan aflatoksin yang diatur dalam SNI, kadar air pada jagung juga turut diperhatikan. Karena kadar air pun menjadi tolak ukur apakah jagung yang dihasilkan layak digunakan oleh industri pangan.  

Mengenal Kandungan Aflatoksin

Aflatoksin merupakan senyawa organik yang memiliki sifat mikotoksin (senyawa toksik atau racun). Senyawa ini berasal dari fungi Aspergillius flavus yang biasanya sering ditemukan di daerah-daerah yang memiliki iklim panas dan lembap. Apabila jumlah kandungan aflatoksin ini dikonsumsi berlebihan maka akan berbahaya bagi kesehatan. 

Lalu, bagaimana menghasilkan jagung dengan kadar aflatoksin yang rendah ? Jagung dapat memiliki kandungan aflatoksin di bawah 20 ppb, apabila hasil panennya langsung dikeringkan serta tempat penyimpannya tidak mengandung banyak uap air, contohnya silo. Sayangnya, saat ini tempat penyimpanan silo dan juga mesin pengering jumlahnya masih sangat terbatas.

Kendala tersebut akhirnya berimbas pada hasil panen jagung yang masih belum optimal sehingga bahan baku jagung sulit untuk mencapai kriteria yang sudah ditentukan.

Kementerian Perindustrian telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ketersediaan bahan baku lokal bagi industri. Salah satu upaya yang dijalankan yaitu program daya saing dan nilai tambah di sektor industri agro.

Misalkan dengan memperbaiki rantai pasok di beberapa sektor seperti industri hasil laut, perikanan, makanan dan juga hilirisasi pada industri pati jagung. Upaya tersebut merupakan langkah yang diambil untuk substitusi impor. 

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo terus menghimbau agar mengurani pembelanjaan barang impor, terutama komoditas pangan. Jokowi juga menyampaikan keheranannya atas impor pada tanaman jagung dan kedelai. Karena menurutnya, kedua komoditas tersebut dapat ditanam dan tumbuh di berbagai wilayah yang ada di Indonesia.

Dan apabila melihat data Food and Agriculture Organization, Indonesia telah ikut berkontribusi terhadap produksi jagung di dunia sebesar 2,19%. Dengan perhitungan produksi jagung mulai periode tahun 2014-2018 yaitu 24 juta ton. Indonesia pun masuk ke dalam 10 negara produsen jagung terbesar di dunia.